Senin memang hari yang menyebalkan
untukku. Hari senin layaknya hari yang penuh angka, aku harus menghadapi
biostatistika, kimia dan ilmu
statistika. Padahal aku sama sekali tak menyukainya, bagiku angka-angka itu
begitu memusingkan dan sulit dicerna oleh otakku , begitu sulit hingga membuatku
mual ketika melihatnya. Meskipun begitu ada rasa bahagia menyambut kedatangan
hari itu, karena aku akan bertemu lagi dengannya, sang pangeran pujaan yang
menjadi idola kaum hawa di kampusku. Dia berwajah tampan, tinggi , putih, tubuh
yang proposional , ramah, benar-benar sempurna dan yang terpenting senyumnya
akan menggoyahkan hati setiap wanita.
Saat aku berdir di depan kelas
bersama sahabaku Gina, dia berjalan dari ujung koridor. Dia melangkah dengan
tegap, tubuhnya yang gagah melangkah dengan pasti, rambutnya yang pendek
sedikit terhembus angin terlihat menawan, senyumnya yang manis membuatku.
Dialah chuning Tatum ku yang ke-2,
pemuda impian setiap wanita.
Begitu terpananyaa aku hingga tak
sadar ia telah berdiri tepat 30 cm di depanku. Dan tiba-tiba dia memanggilku “Gera , ngapain bengong disini”, akupun
terkejut dan otomatis terbangun dari lamunanku. Wah bingung mau jawab apa,
rasanya bibirku terasa ngilu untuk menjawab pertanyaannya. Aku ingin merangkai
kata-kata yang akan membuatnya terkesan padaku
pada moment yang langka ini. Karena dia jarang sekali
menyapaku bahkan hampir bisa dikatakan “tidak pernah” .
Dalam hati ini bertanya-tanya apa
ya yang harus ku katakana. Hmmm “hai,
ndre, apa kabar lama gak ngobrol ya!!!!” wah tapi kok gak nyambung ya sama
pertanyaannya, atau “ow gak lagi ngapa-ngapain” nampaknya terkesan cuek, nanti dipikirnya
aku sombong. Atau “ hai ndre, q lagi
nungu kamu” tapi tekesan centil
banget. Nah mungkin begini akan lebih
baik “ hai ndre, aku gak bengong kok cuman menunggu Gina
aja.” Yah ini lumayan bagus tapi dimana dia sepertinya tadi di depanku.
“hahahahahaa, kasihan kamu makanya jangan bengong,
bukan hanya ayam tetangga bisa mati nanti cintamu juga bisa pergi” Kata Gina
“Lihatlah Andre sudah masuk ke kelas” Lanjutnya
Akupun beranjak pergi
meninggalkan sahabatku yang masih tertawa terbahak-bahak karena
tingkahku itu.
Memang benar cinta datang pada
siapapun dan kapanpun tanpa ada kompromi. Kadang aku sempat berpikir apakah
yang kurasakan ini cinta atau hanya fatamorgana semata. Tapi apapun itu yang
jelas aku menyukainya. Saat aku melihatnya mata ini serassa tak mau berpaling
darinnya, ketika aku tak melihatnya aku selalu mencuri-curi waktu untuk
mencarinya. Saat dia beranjak pergi dari pandanganku aku mencoba melepaskannya
dan berkata dalam hati “ sudahlah dia tak
akan menganggapmu , lupakan saja jangan membuaat dirimu sendiri malu”
to be continue.....