Senin, 22 Desember 2014

SAMBUTAN HANGAT UNTUK CINTA

Senin memang hari yang menyebalkan untukku. Hari senin layaknya hari yang penuh angka, aku harus menghadapi biostatistika, kimia dan  ilmu statistika. Padahal aku sama sekali tak menyukainya, bagiku angka-angka itu begitu memusingkan dan sulit dicerna oleh otakku , begitu sulit hingga membuatku mual ketika melihatnya. Meskipun begitu ada rasa bahagia menyambut kedatangan hari itu, karena aku akan bertemu lagi dengannya, sang pangeran pujaan yang menjadi idola kaum hawa di kampusku. Dia berwajah tampan, tinggi , putih, tubuh yang proposional , ramah, benar-benar sempurna dan yang terpenting senyumnya akan menggoyahkan hati setiap wanita.
Saat aku berdir di depan kelas bersama sahabaku Gina, dia berjalan dari ujung koridor. Dia melangkah dengan tegap, tubuhnya yang gagah melangkah dengan pasti, rambutnya yang pendek sedikit terhembus angin terlihat menawan, senyumnya yang manis membuatku. Dialah chuning Tatum ku yang ke-2, pemuda impian setiap wanita.
Begitu terpananyaa aku hingga tak sadar ia telah berdiri tepat 30 cm di depanku. Dan tiba-tiba dia memanggilku “Gera , ngapain bengong disini”, akupun terkejut dan otomatis terbangun dari lamunanku. Wah bingung mau jawab apa, rasanya bibirku terasa ngilu untuk menjawab pertanyaannya. Aku ingin merangkai kata-kata yang akan membuatnya terkesan padaku  pada moment  yang langka ini. Karena dia jarang sekali menyapaku bahkan hampir bisa dikatakan “tidak pernah” .
Dalam hati ini bertanya-tanya apa ya yang harus ku katakana. Hmmm “hai, ndre, apa kabar lama gak ngobrol ya!!!!” wah tapi kok gak nyambung ya sama pertanyaannya, atau  “ow gak lagi ngapa-ngapain” nampaknya terkesan cuek, nanti dipikirnya aku sombong. Atau “ hai ndre, q lagi nungu kamu” tapi tekesan  centil banget. Nah mungkin begini akan lebih baik “ hai  ndre, aku gak bengong kok cuman menunggu Gina aja.” Yah ini lumayan bagus tapi dimana dia sepertinya tadi di depanku.
“hahahahahaa, kasihan kamu makanya jangan bengong, bukan hanya ayam tetangga bisa mati nanti cintamu juga bisa pergi” Kata Gina
“Lihatlah Andre sudah masuk ke kelas” Lanjutnya
Akupun beranjak pergi  meninggalkan sahabatku yang masih tertawa terbahak-bahak karena tingkahku itu.
Memang benar cinta datang pada siapapun dan kapanpun tanpa ada kompromi. Kadang aku sempat berpikir apakah yang kurasakan ini cinta atau hanya fatamorgana semata. Tapi apapun itu yang jelas aku menyukainya. Saat aku melihatnya mata ini serassa tak mau berpaling darinnya, ketika aku tak melihatnya aku selalu mencuri-curi waktu untuk mencarinya. Saat dia beranjak pergi dari pandanganku aku mencoba melepaskannya dan berkata dalam hati “ sudahlah dia tak akan menganggapmu , lupakan saja jangan membuaat dirimu sendiri malu”
to be continue.....