Rabu, 16 Desember 2015

PERJALANAN KE DUNIA LAIN

Lelah memang kalau mencari uang, walaupun hasilnya tak seberapa. Tak sebanyak gaji bulanan anggota dewan atau pegawai kantoran meskipun pekerjaannya lebih berat. Kemana mana membawa kemoceng dan kain pel serta lap kain di pundak kiriku. Tapi apa boleh buat, jaman sekarang mencari uang itu susah, apalagi sekedar lulusan SD seperti aku ini. Untung-untung diterima kerja di tempat ini, tempat bersejarah dan penuh dengan cerita sehingga tempat ini banyak dikunjungi. Setiap hari aku selalu melihat para pengunjung antusias dengan berbagai perabotan medis yang dipajang di sekitar dinding, ada manekin, dan beberapa lukisan jaman dahulu. Namun tak jarang dari mereka yang membuatku kesal setengah mati, tingkat pendidikan yang sepertinya lebih tinggi dari pada aku, tidak mencerminkan sikapnya. Tidak sedikit diantara mereka yang membuang sampah di sembarang tempat, padahal terdapat beberapa papan pengumuman yang menuliskan “Buanglah Sampah pada Tempatnya”. Aku pernah berpikir apakah orang-orang ini buta huruf sehingga tetap melakukan hal seperti itu.  Sebagai petugas disini hanya bisa mengelus dada dan membersihkan sampah yang mereka bawa supaya tempat ini bersih dan pengunjung yang lain merasa nyaman dan aku pun ikut senang.
Aku baru dua bulan bekerja di tempat ini, namun merasa senang memiliki atasan yang ramah dan pengertian, beberapa teman yang suka bercanda namun ada beberapa yang masih memegang budaya senioritas, dimana yang lebih lama bekerja disini maka dialah yang berkuasa. Mau tidak mau aku juga harus menerimanya, karena aku harus tetap bkerja dan menghasilkan uang untuk menghidupi kedua buah hatiku. Dan hari ini aku yang terkena imbasnya
“Hey darti, kemarin kamu pulang duluan kan? kalau begitu hari ini kamu gantiin aku, gantian dong aku yang pulang duluan”
“Tapi mbak kemarin itu karena….. “ Belum selesai bicara dia sudah menyela
“Kamu itu anak baru sudah berani nolak, banyak alasan”
Sudahlah percuma juga aku bicara, dijalani saja. Mau bilang jujur jika kemarin anakku sakit makanya aku pulang, pasti dikira cari –cari alasan.
“Sabar ya Darti, Mbak Dian memang kayak gitu” aku hanya bisa mengangguk. Sudahlah sebaiknya aku bergegas mengerjakan pekerjaan Mbak Dian supaya aku bisa pulang cepat.
“Ya sudahlah, Nur aku pergi dulu”
Aku pun bergegas mengambil segala macam senjata yang aku butuhkan untuk membersihkan lorong A4. Sebenarnya lorong ini sudah cukup bersih karena jarang orang yang berada di tempat itu terlalu lama. Karena memang pajangannya tidak begitu banyak. Tapi bagaimanapun juga harus tetap dibersihkan debu-debu yang menempel di beberapa kaca dan pajangan.
Orang bilang hidup itu harus dinikmati, bekerja pun juga sama. Jadi tak ada salahnya untuk sedikit bersenang-senang, saatnya menyalakan Hape memilih beberapa list lagu dan memutarnya. Lagu pertama yang ku putar adalah lagu dangdut dari salah satu host super kocak
bang jali bang jali goyangnya bikin happy
bikin loe ketagihan semua jadi goyang…
Tak terasa badanku ikut bergoyang mengikuti beberapa gerakan dari goyang itu. Beberapa pajanan dan kaca sudah selesai dibersihkan tinggal pintu di ujung lorong.

Aku berdiri di depan pintu anehnya ada selembar kertas yang menempel di pintu tersebut. Kertas tersebut bertuliskan “ Jalan Ke Dunia Lain”. 

NANTI

Dia menunggu tiupan angin yang dapat membawanya kemana saja
Dia menunggu air yang mengalir mengikuti arus kebahagiaan
Dia menunggu matahari yang menyinari air mukanya yang kusam
Dia menunggu bulan dan bintang yang dapat menemaninya saat malam datang
Dia menunggu hujan yang akan meleburkan kesedihannya
Dia lelah untuk berpikir
Dia lelah untuk berprasangka
Dia lelah untuk menangis
Dia lelah untuk menunggu
Apakah dia hanya bisa menunggu tak bisakah dia lari saja
Lihatlah di kakinya ada belenggu yang teramat besar
Lihatlah di dadanya ada luka yang teramat dalam
Lihatlah senyum palsu yang menunjukkan kepedihan itu
Lihatlah mata sayu yang kekeringan itu
Lihatlah badan yang kurus kering itu
Lihatlah betapa menyedihkannya dia
Tak kau hirupkah aroma kesepian dari tubuhnya
Tak kau lihatlah kegalauan di raut wajahnya
Tak kau lihatkah ketakutan yang ada di muka kusamnya

*hanya puisi tentang seseorang yg paling dibenci

Senin, 14 Desember 2015

CROWN part 3

Kami pulang ke jalan kami masing-masing dengan perasaan yang bercampur aduk.Aku kembali ke ruang kerjaku. Dan terkejut melihat Cakra telah duduk di kursiku.Aku harap dia tak sadar kalau aku baru saja menangis.
“Hey sayang kau sudah datang, kau tidak lupa kalau hari ini kita harus bertemu rekan bisnisku untuk membicarakan pembangunan hotel di Lombok” Aku mengangguk.Di pertemuan itu, mereka hanya membicarakan soal uang, asset yang dimiliki mobil mewah, dan kali ini aku benar-benar tidak tertarik untuk ikut dalam pembicaraan itu.Akupun pamit duluan.Di perjalaan pulang aku mampir ke salah satu toko kue favoritku saat kuliah, ditempat inilah pertama kali melihat arya.Dia bekerja sambilan di tempat ini sedangkan aku pelanggan setianya.Aku selalu membeli macaron untuk kedua anak pemilik tempat kerjaku saat itu.Aku sering melihat dia mengobrol dengan Tami salah satu teman kuliahku yang terbilang populer.Aku memesan red velvet dan secangkir kopi.
Saat aku melihat kearah pintu, aku melihat Arya dan Tami masuk ke dalam kafe.Mereka duduk tepat di belakangku dan sepertinya mereka tak melihatku.Tak kusangka sampai sekarang mereka masih bersama.Setelah memesan makanan, Tami bertanya pada Arya
“Apakah kau benar-benar bertemu dengan Sarah, apakah dia masih secantik dulu”
“Dia semakin cantik”
“Lalu kau semakin menyukainya”
“Ya” Aku terkejut, ku kira mereka adalah sepasang kekasih
“Lalu kenapa tak kau jadikan kekasihmu saja”
“Aku semakin tak pantas untuknya, dan dia memiliki seseorang yang lebih baik dari pada aku”
“Apanya yang tak pantas, kau ini orang yang hebat”
“Aku hanya seorang PNS dan dia seorang GM di hotel yang sering kami ajak kerjasama, ini hanya akan menjadi batu sandungan untuk karirnya”
“Ah aku mengerti, kalau begitu kau tak perlu bekerja sama dengan hotelnya lagi, pilih saja hotel lainnya, dan kalian bisa berhubungan”
“Sttt kau ini, itu tidak adil untuknya, lagi pula aku harus tetap netral dan objektif dalam setiap pekerjaanku” Mereka sama-sama tertawa sedangan aku hanya terpaku mendengar percakapan itu.Aku tak menyangka jika Arya menyukaiku, sejak kapan itu,terjadi hari ini kah, kemarin atau kemarinnya lagi.Keesokan harinya aku mendapat kabar jika hotel kami kembali terpilih untuk acara pariwisata agustus ini. Ku kira Arya akan menghindari kerja sama dengan hotel kami. Akhirnya aku putuskan untuk mengajaknya bertemu dengannya di sebuah restoran pinggir danau. Aku ingin menikmati udara yang segar di tempat ini.
“Maaf sudah lama menunggu, untuk apa kau memintaku datang kemari”
“aku ingin berterima kasih karena kalian telah memilih hotel kami”
“kau tidak perlu berterima kasih, ini karena hotel kalian memenuhi semua persyaratan yang kami inginkan” Kemudian kami terdiam cukup lama. Aku memberanikan diri untuk bertanya “Apakah dulu kau tahu kalau aku menyukaimu”
“Ya” jawabnya “Lalu kenapa kau hanya diam” tanyaku
“Karena kau seperti menjaga jarak denganku, setiap kali mencoba mendekat kau berlalu pergi, setiap kali aku menatapmu kau memalingkan mukamu.meskipun banyak orang yang mengatakannya padaku,mana mungkin aku percaya kalau kau menyukaiku”
“Itu karena aku malu” Aku tak berani menatap wajahnya karena kurasa wajahku sudah memerah.Setelah sekian lama kami terdiam, tangannya meraih tanganku dia mengajakku pergi untuk melihat tempat ini dan menikmati pemandangan.Kami hanya mengobrol ringan tapi aku merasa bahagia.Harusnya hal ini terjadi 7 tahun yang lalu saat kami muda dan saat aku masih sendiri.Tiba-tiba aku memikirkan Cakra dan merasa bersalah padanya.Tapi aku juga tidak bisa melewatkan momen langka ini atau momen yang sudah lama ku nantikan dan hanya ingin menikmati saat ini aku.Aku mulai memikirkan kata-kata Berta kurasa dia benar bahwa aku harus menata hatiku juga.Mungkin aku harus memikirkan arti kata bahagia yang di ucapkannya.Mungkin aku harus membelokkan jalan pikiranku untuk mencari kebahagiaanku.Mungkin aku bisa mendapatkannya bersama Arya dan dapat mempertahankan genggaman tangan ini selamanya. Dan Cakra, ku rasa dia akan mendapatkan penggantiku dengan mudah. Aku hanya perlu berbicarakan secara baik-baik. Sedangkan karirku, aku hanya akan memulainya dari awal lagi, dengan cara yang baik dan niat yang baik.


Rabu, 11 November 2015

CROWN part 2

Jika air sungai selalu berakhir di laut, aku tak tau kemana jalan hidupku ini akan benar-benar berakhir. Benarkah jalan yang kupilih ini?? Haruskah aku memilih jalan lain?? Ahhh kurasa sudah terlambat. Ketika sudah berjalan terlalu jauh, akan sia-sia jika mencari jalan lain karena itu akan menghabiskan banyak waktu untuk mencapai tempat tujuanku. Namun kata-kata Berta terus mengganggu pikiranku. Kenapa dia berkata seperti itu, apa salahnya menjadi ambisius. Aku sudah bertaruh cukup lama dengan kehidupan ini mana mungkin berhenti di tengah jalan. Setelah Berta pergi, akupun kembali ke kantor, duduk di meja kerjaku dan kembali mengingat kata-katanya. Harta dan tahta adalah ambisi terbesar dalam hidupku.Aku harus menjaganya supaya tetap berada digenggamanku.Aku yakin dengan pernikahan ini aku dapat mempertahankannya.Seseorang mengetuk pintuku, akupun mempersilahkan masuk.
“Selamat siang bu”
“Iya masuklah”
“Ibu, Ada sedikit masalah, event pariwisata bulan depan. Sepertinya mereka sedang melirik hotel lain”
“Bukankah acara itu dilaksanakan oleh pemerintah untuk mempromosikan pariwisata di negara kita kepada pihak asing”
“iya, bu”
“Siapa saingan kita”
“Crown Hotel” Aku menghela napas panjang “Siapa ketua pelaksana acara tersebut”
“Arya Sastra Darmawan dari kementerian pariwisata, besok mereka akan datang untuk survey hotel kita” Arya Sastra Darmawan, pria itu rupanya masih hidup.“Pergilah”.Dewa pun mundur perlahan.Keesokan harinya aku sudah siap dengan balutan blazer merah marun dan bawahan celana palazzo untuk menyambut rombongan arya.
“Selamat pagi, selamat datang di hotel kami, saya sendiri yang akan mengantar kalian untuk melihat hotel ini” sambutku
“Sungguh kebanggaan tersendiri seorang General Manager menyambut kedatangan kami” Kami sama-sama tersenyum sinis,kemudianaku memandunya untuk berkeliling hotel dan mengajak mereka makan siang di restaurant hotel.
“Lama tidak bertemu denganmu Sarah Lestari Dewi, dan aku tidak menyangka, sekarang kau menjadi sekeren ini”
“Ya, sudah cukup lama” aku menjawabnya dengan ketus
“Kau seharusnya berbaik hati pada customer mu ini”
“Baiklah, tuan Arya, bagaimana menurut anda tentang hotel ini, bukan cukup menarik untuk tamu-tamu anda nanti”
“Kau lebih menarik dari pada hotel ini” Aku meletakkan garpu dan pisau makanku.Selera makanku sudah hilang mendengar ucapannya itu.Aku rasa dia terlalu banyak membual.
“Mohon maaf saya ada keperluan lain, tour selanjutnya akan dipandu oleh asisten saya” Aku juga berpamitan kepada anggota rombongan yang lain.Aku pergi ke hutan buatan di belakang hotel untuk menenangkan hatiku setelah bertemu dengan Arya.Orang yang pernah ku cintai sepenuh hati, namun berlalu begitu saja.Dia seperti tak pernah menganggapku ada padahal aku selalu mengharapkannya.Dialah salah satu orang yang mendorongku untuk berambisi tinggi, menjadi orang yang ternama supaya dia memandangku.Meskipun kami sudah lama tak bertemu tapi getaran itu masih ada.Aku tak tahu apakah ini adalah kebencian yang mendalam ataukah sisa-sisa cinta.Berkali kali ku hela napas panjang dan menutup mukaku seolaholah aku juga ingin menutup luka lama itu. Namun kedamaianku terganggu oleh langkah kaki yang mendekat kepadaku, ku kira itu asistenku tapi ternyata dia adalah Arya
“Hutan buatan ini cocok untuk menyegarkan pikiran, kurasa tamuku nanti akan menyukainya”
“Kenapa kau disini, dimana rombonganmu yang lain”
“Aku hanya ingin melihat tempat ini, dan mereka menikmati makan siangnya Makanannya tak seenak tadi saat kau disana, oleh karena itu aku ke sini”
“Pergilah”
“Aku ke sini untuk memberimu selamat atas pernikahanmu yang akan datang dan untuk karirmu yang bersinar terang, Tapi kalau aku mengganggumu disini aku akan pergi” Aku melihat dia akan pergi.Entah kenapa hatiku mendorongku untuk berdiri. Akupun berdiri dan berteriak kepadanya
“Hey Arya Sastra Darmawan, Ini semua karenamu . ini semua salahmu, kaulah yang mendorongku ke jalan ini, kau yang membuatku tak bisa menikmati masa muda, kau yang membuatku terus bekerja di usia mudaku, kau yang membuatku terus memikirkanmu kau yang membuatku menerima pertunangan dengan Cakra supaya bisa mendapatkan posisi ini. itu semua karena kau kau dan kau , kau adalah kesalahan terbesar dalam hidupku dan kau tak seharusnya datang ke hadapanku” Setelah mengucapkan semuanya aku tertunduk lesu, air mataku terus mengalir dan hanya bisa kututup dengan kedua tanganku. Aku tak tau apa yang dipikirkannya sekarang, aku hanya ingin mengungkapkan semua amarahku yang sudah lama terpendam. Tapi aku merasakan tangan arya dipundakku dan kemudian memelukku erat
“Maafkan aku, telah menjadi duri di hatimu selama itu, maafkan aku” Aku tak menjawab karena aku hanya bisa menangis dan terus menangis dan diapun menepuk pundakku..

Sabtu, 07 November 2015

CROWN part 1

Orang bilang aku sangat beruntung karena di usiaku yang terbilang muda telah mendapatkan semua yang dibutuhkan oleh seorang wanita. Karir yang bagus dan cinta yang sebentar lagi akan bermuara ke pelaminan. Tapi menurutku ini bukan keberuntungan tapi ini adalah hasil dari kerja keras. Aku tidak mendapatkannya hanya dengan menjentikkan jariku, semua membutuhkan kerja keras dan pengorbanan.
“Kau lihat teman, kopi ini berasal dari kotoran hewan liar yang bernama luwak.Tapi lihatlah berapa harga kopi ini. Dia begitu mahal bukan.Dia harus menjalani proses yang panjang untuk menjadi kopi yang enak dan berharga dimata orang. Kau tau seperti inilah aku. Aku dulu hanyalah gadis yang berasal daerah kecil yang miskin, seorang gadis yang bermimpi untuk menjadi seorang putri. Meskipun banyak orang disekitarku yang menertawakannya, aku tak perduli. Aku hanya berjalan kemana aku mau”
“Aku tahu itu Sarah, itulah sebabnya aku bilang kamu beruntung, karena kamu bisa berjalan kemanapun kamu mau dan mendapatkan apa yang kamu mau.Dan aku rasa, Cakra juga beruntung mendapatkan wanita seperti kamu”, Aku tersenyum mendengar pujian itu. Ahh ya benar Cakra, kurasa bukan dia yang beruntung mendapatkanku, tapi akulah yang beruntung telah mendapatkannya.Tak dapat dipungkiri bahwa dia salah satu tokohyang membawaku kedalam kesuksesan.Dia mengajarkan bisnis kepadaku dan menjadikanku general manajer dihotel ini.
“Oh ya aku dengar, Cakra akan membangun hotel di Lombok, dan ku dengar dia sendiri yang akan mengelolanya, Lalu apakah setelah kalian menikah kau akan ikut dia ke sana”
“Entahlahlah” jawabku singkat. Aku melihat tatapan aneh darinya “ Kenapa kau menatapku seperti itu?”
“Aku ingin bertanya satu hal kepadamu, Jawablah dengan jujur.Apakah kau mencintai Cakra?”
“Mungkin”
“Mungkin!!!Apa kau gila! kalian akan segera menikah, dan jawabanmu mungkin”
“Kenapa tidak, ini hanya sebuah pernikahan dan ini hanya sebuah jalan” aku menghentikan kalimatku dan meneguk kopiku.
“Jalan, apa maksudmu. Apakah ini ada kaitannya dengan ambisimu itu”
“Bukan seperti itu” Aku kembali meneguk sisa kopi di cangkirku.Aku takut Berta menyadari kegugupanku.
“Sarah, pernikahan adalah sebuah ikatan suci yang dilakukan manusia atas nama tuhannya, kau tak boleh mempermainkannya atau sekedar mencari keuntungan, akan banyak orang yang terluka jika kau melakukannya” Aku terdiam
“Aku hanya ingin mempertahankan posisiku”

“Kau tidak perlu melakukannya, aku yakin dengan kemampuanmu, kau mampu mempertahankannya tanpa bantuan Cakra. Sarah......, seseorang dengan ambisi yang tinggi, bukan hanya membutuhkan niat dan kemampuan yang baik tapi juga hati yang baik yang mampu menyeimbangkan keduanya supaya nantinya tidak akan jatuh ke dalam jurang penyesalan, ingatlah harta dan tahta tak menjamin kebahagiaanmu” 
Aku hanya diam. Akan sulit untuk membantah kata-kata Berta.Aku tahu dia benar, tapi ini jalan yang ku pilih dan aku tak bisa mundur begitu saja.

Mawar Merah Dan Putih

Mawar,
Itu salah satu bunga yang ku suka, di antara mereka mawar merah dan putih adalah favoritku
Ingin rasanya memiliki mereka di dalam hidupku untuk selamanya
Aku selalu bisa tersenyum saat melihat mereka
Senang melihat mereka tumbuh
Senang melihat mereka merekah
Senang melihat mereka menebarkan aroma wangi di setiap sudut kehidupanku
Dan senang saat mereka terlihat indah
Mawar memang berduru
Tapi duri itu tak pernah bisa melukaiku
Karenanya aku selalu menyimpan di dekatku
Berharap mereka tak meninggalkanku
Namun, lambat laun aku meyadari itu tak akan terjadi
Mereka akan layu dengan sendirinya dan meninggalkanku kembali pada kesepian
Suatu saat mawar-mawar itu akan tumbuh di suatu tempat
Tumbuh dengan memancarkan keindahan mereka
Meskipun aku tak pernah dapat melihatnya
Kuharap seseorang merawatnya dengan baik, lebih baik dari pada aku

Meskipun begitu aku bersyukur pernah memiliki mereka dalam salah satu bagian kehidupanku 

Jumat, 24 April 2015

DIA

Dia merenungi nasibnya di dalam ketidakpastian
Itulah yang dilakukannya di dalam ruang yang memberinya kebebasan
Dia melakukan banyak hal di sana
Tertawa tanpa beban, menangis tanpa suara dan berpikir tanpa bertindak
Baginya kebebasan adalah kebahagiaan yang selalu dinanti seperti 4 tahun silam
Baginya yang dibutuhkan adalah pengertian dan dukungan bukanlah tekanan dan dorongan
Terlalu banyak aturan membuatnya seperti manusia robot
Melakukan apa yang harus dilakukan
Menghindari apa yang di larang
Mencoba bahagia demi kebahagiaan orang meski hatinya diliputi kesunyian
Kadang kala dia memilih diam jika merasa sudah tak tahan
Kadang pula dia menghindar
Kadang kala dia mencurahkan isi hatinya dalam pikiran
Dan karenanya dia merasa bosan dan berdosa
Berbohong pada banyak orang
Berdusta pada tuhan dan merasa membuat orang disekelilingnya tersiksa
Mungkin suatu hari dia akan menyerah pada otak keras dan cita-cita
Meski dia terluka , orang disekitarna akan bahagia
Atau mungkin dia akan melawan
Mengumpulkan keberanian untuk bertahan meraih cita-cita
Atau mungkin dia akan tetap menunggu
Takdir apa ang disiapkan tuhan untuknya


Kamis, 12 Maret 2015

Lelah

saya lelah
kata yang sering terucap tanpa sadar
saya lelah bukan karena terlalu banyak bekerja
jika bekerja saya bisa berhenti ketika lelah
saya lelah karena terlalu banyak berpikir, menimbang dan merasa
tidak ada kata cukup untuk melakukannya
karena semuanya terjadi begitu saja

dan saya lelah saat menyadarinya

RAPUH

Ini akan menjadi perempuran yang melelahkan
pertempuran antara hati nurani dan logika
Ini akan sangat melelahkan
setiap hari selalu dihujani oleh pertanyaan dan perasaan yang merisaukan
Ini akan sangat melelahkan
berusaha baik namun isinya begitu rapuh
Ini akan sangat melelahkan
saat hati terasa sakit karena tak ada kepercayaan
Ini akan sangat melelahkan
ketika mereka berusaha terlalu keras sedangkan aku tak bisa apa apa
Ini akan sangat melelahkan
Hingga bunga warna-warni, hujan, bulan bahkan bintang pun tak nampak indah
Ini akan sangat melelahkan
ketika aku hanya mampu menghindar dan diam
Ini akan sangat melelahkan
ketika kamu melihat tak ada siapapun di sisimu
ini akan sangat melelahkan
tersenyum sepanjang hari saat  hati tak bisa melakukannya
namun ini harus dilakukan demi orang terkasih
Meski sakit bertubi tubi
meski merana berhari hari
meski selalu ingin lari
tapi nyatanya tak mampu
karena keberanian ini belum cukup untuk memacu adrenalin, hati dan pikiran menyatu
Ini akan sangat melelahkan ketika tiada yang tahu kapan semuanya akan berakhir


Kamis, 26 Februari 2015

UNINVITED

Kata Darti jadi orang jangan terlalu jual mahal, jangan terlalu selective kalau memilih pasangan nanti tidak laku laku. Tapi menurutku bagaimana kita tidak boleh selective, tujuannya mencari pasangan itu untuk mencari pendamping seumur hidup, bisa setia sampai mati, sampai aki-aki dan neni-neni. Makanya harus bisa memilih pasangan yang baik, pasangan yang membuat nyaman di hati, kalau masalah tampan atau kaya itu hanyalah bonus. Tapi bukan Darti, kalau tidak bisa membuatku galau setengah mati, pasalnya dia menggunakan kartu matiku.
“Coba kamu pikir, umurmu sekarang sudah 30 tahun, selama 30 tahun kamu hidup di dunia yang fana ini kamu belum pernah merasakan punya pasangan hidup, pacaran saja belum pernah kan” Aku mengangguk mendengar ucapannya itu.
 “Kamu mau di cap perawan tua sampai mati” aku mulai gelagapan kemudian dengan sigap menjawab “Jangan sampai seperti itu Darti”
“Nah makanya kali ini kamu harus mau kukenalkan dengan temanku”
“Teman yang mana? aku mengenal semua temanmu”
“Yang satu ini, kamu sama sekali tidak mengenalnya, dia sudah lama tinggal di luar kota, dan baru kembali kemarin. Hari ini dia akan datang kemari”
Seorang pelayan datang menghampiri kami. Dia siap mencatat pesanan kami.Aku berdehem “ Caramel Macchiato  dan triple decker cheesecake” setelah mencatat pesananku, pelayan itu beralih ke Darti. “Iced tea dan lemon square
Darti kemudian permisi ke kamar mandi. Tak berapa lama seorang pria muda menghampiri meja kami. Wajahnya sudah tidak asing lagi untukku.
“Nilna Larasati ya” aku mengangguk, kemudian dia mengulurkan tangannya kepadaku dan kusambut dengan ragu-ragu.
“Siapa?”
“Firman, adik kelasmu semasa kuliah” Sejenak aku berpikir untuk mengingat kembali teman dikampusku. Setelah lama kupandangi akhirnya aku ingat dulu aku mempunyai seorang adik kelas yang sangat cerewet bernama firman, tapi dulu dia tak seperti ini. Dulu dia kurus, tinggi, item, dekil. Tak kusangka sekarang dia berubah menjadi seorang pria tampan.
“Kamu sendirian? aku boleh gabung?”
“Aku tadi ke sini dengan teman, tapi tidak masalah kalau kamu ingin gabung”
“Bukan sedang arisan kan” Kami tertawa, anak ini memang tidak berubah selalu bisa membuatku tertawa. Kemudian Darti datang menghampiri kami. Dia terlihat kaget melihat ada orang yang duduk di tempatnya.
“Firman”
“Hai” dia memasang senyuman yang menonjolkan giginya yang rapi. tak disangka Darti langsung mengenalinya, aku saja sudah lupa.
“Na, Tomi tidak jadi datang dan aku mendadak ada panggilan dari kantor, aku duluan ya”
Seperginya Darti kami berdua mengobrol dengan santai. Ternyata sekarang dia sudah bekerja diperusahaan konsultan arsitektur. Bagiku ini adalah pertemuan singkat yang menyenangkan.
Dua hari kemudian aku bertemu dengan Tomi di kedai kopi yang sama, seperti kata Darti dia orang yang cerdas berwibawa dan penuh semangat.
“Aku pernah merancang salah satu gedung tertinggi di jalan thamrin dan kemarin aku baru saja menyelesaikan sebuah proyek besar di Kalimantan. Aku juga mendapat tawaran di Negeri Jiran dan akan sangat menyenangkan jika aku bisa membawamu kesana” Aku tersedak mendengar kalimat yang terakhir. Apakah maksudnya dia ingin membawaku ke sana sebagai pasangan. Secepat itukah, padahal kita baru pertama kali bertemu.
“Walau baru pertama kali saya bertemu dengan nilna, saya merasa kamu bisa menjadi pendamping yang pas untuk saya, cantik, pintar dan anggun” Aku hanya tersenyum tipis dan merasa tersanjung atas pujiannya tapi aku juga muak mendengarnya. Dipertemuan ini aku tak banyak bicara lama-lama dia membosankan, pujiannya terlalu berlebihan. Untungnya dia cepat pergi karena ada panggilan mendadak dari kantornya. Meskipun begitu kami berjanji untuk bertemu kembali. Kali ini aku benar-benar mengikuti kata darti untuk membuka pintu hatiku supaya dia tak pernah lagi menyebut kata perawan tua. Tiba-tiba ponselku bordering.
“Halo”
“Ciye yang selesai kencan”
“Sok Tau”
“Itu pria yang berkacamata tadi, siapa kalau bukan pacar?” aku celingukan mencari si penelepon, dia pasti ada di sekitar sini. Kemudian aku melihat lambaian tangan yang dihiasi jam tangan rolex
“Hai kakak, akhirnya kita bertemu lagi”
“Sedang apa kamu di sini”
“ngopi”
“Sepertinya dia pria yang baik, berkelas, berwibawa dan kaya. Pilihanmu memang selalu yang terbaik kakak”
“Pilihan apanya”
“Itu pacarmu kan?”
“Sudah kubilang bukan”
Aku melihat senyum dari wajahnya. Kemudian dia menarik tanganku membawaku pergi dari kedai. Mobil kami berhenti di kampus yang sudah lama tidak aku kunjungi. Malam-malam begini kampus terasa sepi. Hanya ada seorang satpam yang menjaga pintu masuk tapi dia sedang tertidur.
“Untuk apa kita ke sini”
“Kencan”
“Hey anak kecil, siapa yang mengijinkanmu membawaku ke sini”
“Kalau kau tak mau seharusnya menolak dari tadi” Dia membawaku ke atap gedung, Gedung kampusnya ada tiga lantai, tapi selama aku di kampus tak sekalipun pernah mendatangi tempat ini. Disini bintang terlihat lebih jelas, angin yang berhembus membuat badanku kedinginan. Aku mengikuti Firman yang berdiri di ujung. Dia menyodorkan sebotol minuman bersoda kemudian memberikan jaketnya kepadaku. Sebenarnya aku tak enak hati untuk menerima jaketnya namun dia memaksa sepertinya tahu kalau aku kedinginan.
“Berapa umurmu sekarang”
“25”
“Apa itu benar, bukankah seharusnya kamu berumur 27 atau 28”
“Aku masuk perguruan tinggi lebih cepat dibandingkan dengan yang lain karena aku mengikuti kelas akselerasi dari SMP, kamu pasti tidak menyangka aku sepintar itu kan” aku hanya tersenyum dan meneguk sodaku.
“Dulu aku melihatmu di sana” Dia menunjuk sebuah pohon angsana. Tempat favoritku untuk membaca buku. Tak kusangka tempat itu nampak terlihat jelas dari sini.

“Dulu kau sangat cantik kakak” Dia membuatku terkejut karena mendekatkan wajahnya kepadaku. “Tapi sekarang aku melihat kerutan di bawah matamu” aku mendorongnya “Apa kau bilang, kerutan? bagaimanapun juga aku ini lebih tua dari pada kamu, jangan bicara tidak sopan seperti itu padaku” Aku menggerutu tapi dia tertawa. Anak ini benar-benar gila. Setelah berhenti tertawa dia berkata “Meskipun begitu sekarang kamu tetap cantik” aku tersanjung mendengar pujian darinya, kalau dilihat-lihat dia pria yang manis sayangnya usianya lebih muda dariku.
Pagi hari datang, suara taylor swift terdengar nyaring. Aku mencari keberadaan Hp ku, kemudian mengangkat panggilan itu,
“Hai kakak apakah kamu sudah bangun, bagaimana apakah kamu mimpi indah setelah kencan kita tadi malam”
“Heh siapa bilang itu kencan”
“Oke ternyata kamu sudah bangun, bey” tut tut tut dia menelpon dan menutup seenak hatinya. Apa tadi dia bilang “Kencan” seumur-umur aku tidak pernah kencan dengan orang yang lebih muda dari pada aku. Sudahlah aku tidak peduli dengan apa yang dikatakannya sekarang saatnya kembali ke rutinitasku, sarapan pagi dan berangkat ke kantor.
Baru memasuki loby kantor aku mendengar teriakan Darti
“Nilna” dia menghampiriku dan menggeretku ke meja loby. Aku melihat sebuket mawar merah yang cantik di meja panjang itu. Tapi kemudian Darti mengambilnya dan menyerahkannya kepadaku
“Kemarin kencannya sukses berat ya, sampai dia mengirimkan bunga ditambah kata-kata romantis di kartu itu”
Kencan? apa mungkin semua ini dari Firman. Kenapa aku jadi memikirkan dia. Mungkinkah anak itu sudah menghipnotisku karena semenjak tadi dia selalu berputar-putar dipikiranku. Ku buka kartu ucapan itu, entah mengapa aku merasa kecewa saat kulihat nama Tomi yang tertulis di sana.
***
Hari ini Tomi mengajakku bertemu di kedai kopi. Kali ini aku memesan secangkir espresso dengan sesendok gula. Tak berapa lama dia datang membawa sebuket mawar merah. Kami banyak membicarakan tentang pekerjaan, sesekali dia menyinggung masalah perasaan tapi aku mengalihkan pembicaraan itu. Entah mengapa aku merasa tidak nyaman membicarakannya. Namun kemudian aku mengalami kebuntuan untuk mengelak ketika dia bertanya
“Bagaimana tawaranku kemarin, apakah kamu bersedia untuk ikut aku ke Malaysia dan menjadi pendampingku disana?”
“Pendamping?”
“Oh maaf, maksudku sebagai seorang istri” Sejenak aku berpikir, aku tak tahu dia melamarku secepat ini, padahal kami baru saja bertemu dan belum begitu kenal dengannya. terlebih lagi aku merasa biasa saja saat di dekatnya tidak seperti saat aku bersama Firman. Dia bisa memberikan suasana baru yang membuatku nyaman dan senang, di saat seperti ini aku ingin bertemu dengannya. Seketika aku celingukan mencari anak itu, mungkinkah dia berada di sini karena biasanya dia selalu muncul di tempat ini.
“Kamu mencari siapa” Tanya Tomi , aku hanya menggelengkan kepalaku
“Aku rasa aku tidak bisa, ini terlalu cepat untukku”
“Bukankah ini sudah saatnya kamu untuk menikah, aku dengar dari cerita Darti kalau usiamu sudah 30 tahun, orang tuamu selalu memintamuu untuk menikah dan kamu belum pernah berpacaran, harusnya kamu bersyukur karena aku memilihmu, tapi kamu malah menolakku, Sudahlah tidak ada gunanya berhubungan dengan orang sepertimu aku rasa pria manapun tak akan ada yang mau mendekatimu” aku terkejut mendengar kata-kata seperti itu keluar dari mulutnya, aku merasa terhina dengan kata-katanya.
“Maaf tuan kata-kata anda sangat kasar untuk wanita secantik dia” aku menoleh ke belakang, ternyata Firman telah berdiri di belakangku. Dia menggenggam tanganku dan berkata “ Sayang, maaf aku telat, ada banyak pekerjaan di kantor” aku hanya mengangguk pelan, kemudian kudengar suara kursi yang digeser dengan keras dan Tomi pergi dari tempatnya.
“Jadi pria seperti itu yang kau sukai” aku menggeleng
“Aku merasa malu” Dia menggenggam tanganku.”Tidak ada yang memalukan darimu, apa yang membuatmu malu” lihatlah padaku, aku pun menatapnya.
“Nilna, aku mencintaimu apa kamu percaya” aku menggeleng
“Aku sungguh mencintaimu sejak pertama kali aku melihatmu dibawah pohon angsana itu” Aku sungguh tak percaya dengan apa yang dikatakannya. Sejenak kami hanya diam
“Maaf aku tidak bisa”
“Kenapa?”
“Karena kamu 25 tahun dan aku 30 tahun”
“Jadi hanya masalah umur”
“Ya aku tak mungkin bilang ke orang tuaku kalau aku berpacaran dengan orang yang 5 tahun lebih muda dariku”
“Jadi kau lebih menyukai pria dewasa yang tidak menghargaimu itu” suaranya meninggi
Plak,.. Aku tidak menyangka jika tanganku mendarat di pipinya. Dia hanya memegangi pipinya aku melihat kemarahan dari sorot matanya. Sesungguhnya aku merasa menyesal, tapi entah mengapa mulutku terasa kaku untuk meminta maaf hingga dia pergi dari hadapanku.
Aku kembali ke kantor dengan lunglai. Ketika kulihat Darti, aku langsung menghampirinya dan memeluknya, air matakupun menetes. Aku tidak bisa menahan perasaan menyesalku. Aku menyesal telah menamparnya dan sekarang aku takut kehilangan dia. Orang yang dalam sekejap membuatku jatuh cinta, orang yang bisa membuatku tertawa dan aku telah melukainya bukan hanya pipinya tapi juga hatinya.
Hari itu benar-benar hari terburuk dalam hidupku. Sekarang tak ada lagi dering telpon di pagi hari, tak ada lagi orang yang tiba-tiba muncul di kedai kopi. Aku merasa kehilangan. Memang benar jika cinta datang tanpa diduga, dia datang bagai tamu yang tak diundang. Tak bisa ditebak pada siapa dia akan terpaut, begitu indah saat dia datang dan menyakitkan saat dia pergi. dan tak ada yang tahu kapan dia datang dan kapan dia pergi, apakah dia datang pada orang yang tepat, orang yang kita inginkan atau pada orang yang paling kita hindari. Kita hanya mempunyai pilihan untuk menyambutnya atau membiarkannya pergi. Apapun pilihan itu pasti ada konsekuensinya. Dan pilihanku kali ini membuat ku kehilangan dia.
Setahun telah berlalu kini hari-hariku selalu dipenuhi oleh pekerjaan namun aku masih memiliki rasa rindu untuk Firman. Hari ini Pak Ridwan memberiku tugas untuk membuat desain interior di sebuah apartemen. Akupun segera meluncur. Ku ketok pintu apartemen itu, seorang pria membukanya dari dalam. Aku terkejut melihat orang yang ku kenal ada di dalam sana dan sepertinya dia sama terkejutnya denganku
“Firman”
“Nilna” Firman mengijinkanku masuk ke apartemennya, aku mengatakan tujuanku ketempat ini. Tidak kusangka jika klienku hari ini adalah Firman.
Aku memeranikan diri untuk bertanya “Apa kamu akan tinggal di tempat ini, sendirian atau…”
“Iya aku sendirian” Selanya kemudian kami sama-sama diam. Aku merasakan jantungku mulai berdegup kencang.
“Apa kamu mau menemaniku untuk tinggal disini” lanjutnya
“Mungkin” Jawabku