Lelah memang kalau
mencari uang, walaupun hasilnya tak seberapa. Tak sebanyak gaji bulanan anggota
dewan atau pegawai kantoran meskipun pekerjaannya lebih berat. Kemana mana
membawa kemoceng dan kain pel serta lap kain di pundak kiriku. Tapi apa boleh
buat, jaman sekarang mencari uang itu susah, apalagi sekedar lulusan SD seperti
aku ini. Untung-untung diterima kerja di tempat ini, tempat bersejarah dan
penuh dengan cerita sehingga tempat ini banyak dikunjungi. Setiap hari aku selalu
melihat para pengunjung antusias dengan berbagai perabotan medis yang dipajang
di sekitar dinding, ada manekin, dan beberapa lukisan jaman dahulu. Namun tak
jarang dari mereka yang membuatku kesal setengah mati, tingkat pendidikan yang
sepertinya lebih tinggi dari pada aku, tidak mencerminkan sikapnya. Tidak
sedikit diantara mereka yang membuang sampah di sembarang tempat, padahal
terdapat beberapa papan pengumuman yang menuliskan “Buanglah Sampah pada
Tempatnya”. Aku pernah berpikir apakah orang-orang ini buta huruf sehingga
tetap melakukan hal seperti itu. Sebagai
petugas disini hanya bisa mengelus dada dan membersihkan sampah yang mereka
bawa supaya tempat ini bersih dan pengunjung yang lain merasa nyaman dan aku
pun ikut senang.
Aku baru dua bulan
bekerja di tempat ini, namun merasa senang memiliki atasan yang ramah dan
pengertian, beberapa teman yang suka bercanda namun ada beberapa yang masih
memegang budaya senioritas, dimana yang lebih lama bekerja disini maka dialah
yang berkuasa. Mau tidak mau aku juga harus menerimanya, karena aku harus tetap
bkerja dan menghasilkan uang untuk menghidupi kedua buah hatiku. Dan hari ini aku
yang terkena imbasnya
“Hey darti, kemarin kamu pulang duluan
kan? kalau begitu hari ini kamu gantiin aku, gantian dong aku yang pulang
duluan”
“Tapi mbak kemarin itu karena….. “ Belum
selesai bicara dia sudah menyela
“Kamu itu anak baru sudah berani nolak,
banyak alasan”
Sudahlah percuma juga aku bicara,
dijalani saja. Mau bilang jujur jika kemarin anakku sakit makanya aku pulang,
pasti dikira cari –cari alasan.
“Sabar ya Darti, Mbak Dian memang kayak
gitu” aku hanya bisa mengangguk. Sudahlah sebaiknya aku bergegas mengerjakan
pekerjaan Mbak Dian supaya aku bisa pulang cepat.
“Ya sudahlah, Nur aku pergi dulu”
Aku pun bergegas
mengambil segala macam senjata yang aku butuhkan untuk membersihkan lorong A4.
Sebenarnya lorong ini sudah cukup bersih karena jarang orang yang berada di
tempat itu terlalu lama. Karena memang pajangannya tidak begitu banyak. Tapi
bagaimanapun juga harus tetap dibersihkan debu-debu yang menempel di beberapa
kaca dan pajangan.
Orang bilang hidup itu
harus dinikmati, bekerja pun juga sama. Jadi tak ada salahnya untuk sedikit
bersenang-senang, saatnya menyalakan Hape memilih beberapa list lagu dan memutarnya.
Lagu pertama yang ku putar adalah lagu dangdut dari salah satu host super kocak
bang
jali bang jali goyangnya bikin happy
bikin
loe ketagihan semua jadi goyang…
Tak terasa badanku ikut
bergoyang mengikuti beberapa gerakan dari goyang itu. Beberapa pajanan dan kaca
sudah selesai dibersihkan tinggal pintu di ujung lorong.
Aku berdiri di depan pintu anehnya ada
selembar kertas yang menempel di pintu tersebut. Kertas tersebut bertuliskan “
Jalan Ke Dunia Lain”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar