Kata Darti jadi orang jangan terlalu
jual mahal, jangan terlalu selective
kalau memilih pasangan nanti tidak laku laku. Tapi menurutku bagaimana kita
tidak boleh selective, tujuannya
mencari pasangan itu untuk mencari pendamping seumur hidup, bisa setia sampai
mati, sampai aki-aki dan neni-neni. Makanya harus bisa memilih pasangan yang
baik, pasangan yang membuat nyaman di hati, kalau masalah tampan atau kaya itu hanyalah
bonus. Tapi bukan Darti, kalau tidak bisa membuatku galau setengah mati,
pasalnya dia menggunakan kartu matiku.
“Coba kamu pikir, umurmu sekarang sudah
30 tahun, selama 30 tahun kamu hidup di dunia yang fana ini kamu belum pernah
merasakan punya pasangan hidup, pacaran saja belum pernah kan” Aku mengangguk mendengar
ucapannya itu.
“Kamu mau di cap perawan tua sampai mati” aku
mulai gelagapan kemudian dengan sigap menjawab “Jangan sampai seperti itu
Darti”
“Nah makanya kali ini kamu harus mau kukenalkan
dengan temanku”
“Teman yang mana? aku mengenal semua
temanmu”
“Yang satu ini, kamu sama sekali tidak
mengenalnya, dia sudah lama tinggal di luar kota, dan baru kembali kemarin.
Hari ini dia akan datang kemari”
Seorang pelayan datang menghampiri kami.
Dia siap mencatat pesanan kami.Aku berdehem “ Caramel Macchiato dan triple decker cheesecake” setelah
mencatat pesananku, pelayan itu beralih ke Darti. “Iced tea dan lemon square”
Darti kemudian permisi ke kamar mandi.
Tak berapa lama seorang pria muda menghampiri meja kami. Wajahnya sudah tidak asing
lagi untukku.
“Nilna Larasati ya” aku mengangguk,
kemudian dia mengulurkan tangannya kepadaku dan kusambut dengan ragu-ragu.
“Siapa?”
“Firman, adik kelasmu semasa kuliah”
Sejenak aku berpikir untuk mengingat kembali teman dikampusku. Setelah lama
kupandangi akhirnya aku ingat dulu aku mempunyai seorang adik kelas yang sangat
cerewet bernama firman, tapi dulu dia tak seperti ini. Dulu dia kurus, tinggi,
item, dekil. Tak kusangka sekarang dia berubah menjadi seorang pria tampan.
“Kamu sendirian? aku boleh gabung?”
“Aku tadi ke sini dengan teman, tapi tidak
masalah kalau kamu ingin gabung”
“Bukan sedang arisan kan” Kami tertawa,
anak ini memang tidak berubah selalu bisa membuatku tertawa. Kemudian Darti
datang menghampiri kami. Dia terlihat kaget melihat ada orang yang duduk di
tempatnya.
“Firman”
“Hai” dia memasang senyuman yang
menonjolkan giginya yang rapi. tak disangka Darti langsung mengenalinya, aku
saja sudah lupa.
“Na, Tomi tidak jadi datang dan aku mendadak
ada panggilan dari kantor, aku duluan ya”
Seperginya Darti kami berdua mengobrol
dengan santai. Ternyata sekarang dia sudah bekerja diperusahaan konsultan
arsitektur. Bagiku ini adalah pertemuan singkat yang menyenangkan.
Dua hari kemudian aku bertemu dengan
Tomi di kedai kopi yang sama, seperti kata Darti dia orang yang cerdas
berwibawa dan penuh semangat.
“Aku pernah merancang salah satu gedung
tertinggi di jalan thamrin dan kemarin aku baru saja menyelesaikan sebuah
proyek besar di Kalimantan. Aku juga mendapat tawaran di Negeri Jiran dan akan
sangat menyenangkan jika aku bisa membawamu kesana” Aku tersedak mendengar
kalimat yang terakhir. Apakah maksudnya dia ingin membawaku ke sana sebagai
pasangan. Secepat itukah, padahal kita baru pertama kali bertemu.
“Walau baru pertama kali saya bertemu
dengan nilna, saya merasa kamu bisa menjadi pendamping yang pas untuk saya, cantik,
pintar dan anggun” Aku hanya tersenyum tipis dan merasa tersanjung atas
pujiannya tapi aku juga muak mendengarnya. Dipertemuan ini aku tak banyak
bicara lama-lama dia membosankan, pujiannya terlalu berlebihan. Untungnya dia
cepat pergi karena ada panggilan mendadak dari kantornya. Meskipun begitu kami
berjanji untuk bertemu kembali. Kali ini aku benar-benar mengikuti kata darti
untuk membuka pintu hatiku supaya dia tak pernah lagi menyebut kata perawan
tua. Tiba-tiba ponselku bordering.
“Halo”
“Ciye yang selesai kencan”
“Sok Tau”
“Itu pria yang berkacamata tadi, siapa
kalau bukan pacar?” aku celingukan mencari si penelepon, dia pasti ada di
sekitar sini. Kemudian aku melihat lambaian tangan yang dihiasi jam tangan
rolex
“Hai kakak, akhirnya kita bertemu lagi”
“Sedang apa kamu di sini”
“ngopi”
“Sepertinya dia pria yang baik,
berkelas, berwibawa dan kaya. Pilihanmu memang selalu yang terbaik kakak”
“Pilihan apanya”
“Itu pacarmu kan?”
“Sudah kubilang bukan”
Aku melihat senyum dari wajahnya.
Kemudian dia menarik tanganku membawaku pergi dari kedai. Mobil kami berhenti
di kampus yang sudah lama tidak aku kunjungi. Malam-malam begini kampus terasa
sepi. Hanya ada seorang satpam yang menjaga pintu masuk tapi dia sedang
tertidur.
“Untuk apa kita ke sini”
“Kencan”
“Hey anak kecil, siapa yang
mengijinkanmu membawaku ke sini”
“Kalau kau tak mau seharusnya menolak
dari tadi” Dia membawaku ke atap gedung, Gedung kampusnya ada tiga lantai, tapi
selama aku di kampus tak sekalipun pernah mendatangi tempat ini. Disini bintang
terlihat lebih jelas, angin yang berhembus membuat badanku kedinginan. Aku
mengikuti Firman yang berdiri di ujung. Dia menyodorkan sebotol minuman bersoda
kemudian memberikan jaketnya kepadaku. Sebenarnya aku tak enak hati untuk
menerima jaketnya namun dia memaksa sepertinya tahu kalau aku kedinginan.
“Berapa umurmu sekarang”
“25”
“Apa itu benar, bukankah seharusnya kamu
berumur 27 atau 28”
“Aku masuk perguruan tinggi lebih cepat
dibandingkan dengan yang lain karena aku mengikuti kelas akselerasi dari SMP,
kamu pasti tidak menyangka aku sepintar itu kan” aku hanya tersenyum dan
meneguk sodaku.
“Dulu aku melihatmu di sana” Dia
menunjuk sebuah pohon angsana. Tempat favoritku untuk membaca buku. Tak
kusangka tempat itu nampak terlihat jelas dari sini.
“Dulu kau sangat cantik
kakak” Dia membuatku terkejut karena mendekatkan wajahnya kepadaku. “Tapi
sekarang aku melihat kerutan di bawah matamu” aku mendorongnya “Apa kau bilang,
kerutan? bagaimanapun juga aku ini lebih tua dari pada kamu, jangan bicara
tidak sopan seperti itu padaku” Aku menggerutu tapi dia tertawa. Anak ini
benar-benar gila. Setelah berhenti tertawa dia berkata “Meskipun begitu
sekarang kamu tetap cantik” aku tersanjung mendengar pujian darinya, kalau
dilihat-lihat dia pria yang manis sayangnya usianya lebih muda dariku.
Pagi hari datang, suara
taylor swift terdengar nyaring. Aku mencari keberadaan Hp ku, kemudian
mengangkat panggilan itu,
“Hai kakak apakah kamu
sudah bangun, bagaimana apakah kamu mimpi indah setelah kencan kita tadi malam”
“Heh siapa bilang itu
kencan”
“Oke ternyata kamu
sudah bangun, bey” tut tut tut dia menelpon dan menutup seenak hatinya. Apa
tadi dia bilang “Kencan” seumur-umur aku tidak pernah kencan dengan orang yang
lebih muda dari pada aku. Sudahlah aku tidak peduli dengan apa yang
dikatakannya sekarang saatnya kembali ke rutinitasku, sarapan pagi dan
berangkat ke kantor.
Baru memasuki loby
kantor aku mendengar teriakan Darti
“Nilna” dia
menghampiriku dan menggeretku ke meja loby. Aku melihat sebuket mawar merah
yang cantik di meja panjang itu. Tapi kemudian Darti mengambilnya dan
menyerahkannya kepadaku
“Kemarin kencannya
sukses berat ya, sampai dia mengirimkan bunga ditambah kata-kata romantis di
kartu itu”
Kencan? apa mungkin
semua ini dari Firman. Kenapa aku jadi memikirkan dia. Mungkinkah anak itu
sudah menghipnotisku karena semenjak tadi dia selalu berputar-putar
dipikiranku. Ku buka kartu ucapan itu, entah mengapa aku merasa kecewa saat
kulihat nama Tomi yang tertulis di sana.
***
Hari ini Tomi
mengajakku bertemu di kedai kopi. Kali ini aku memesan secangkir espresso dengan sesendok gula. Tak
berapa lama dia datang membawa sebuket mawar merah. Kami banyak membicarakan
tentang pekerjaan, sesekali dia menyinggung masalah perasaan tapi aku
mengalihkan pembicaraan itu. Entah mengapa aku merasa tidak nyaman
membicarakannya. Namun kemudian aku mengalami kebuntuan untuk mengelak ketika
dia bertanya
“Bagaimana tawaranku
kemarin, apakah kamu bersedia untuk ikut aku ke Malaysia dan menjadi
pendampingku disana?”
“Pendamping?”
“Oh maaf, maksudku
sebagai seorang istri” Sejenak aku berpikir, aku tak tahu dia melamarku secepat
ini, padahal kami baru saja bertemu dan belum begitu kenal dengannya. terlebih
lagi aku merasa biasa saja saat di dekatnya tidak seperti saat aku bersama
Firman. Dia bisa memberikan suasana baru yang membuatku nyaman dan senang, di
saat seperti ini aku ingin bertemu dengannya. Seketika aku celingukan mencari
anak itu, mungkinkah dia berada di sini karena biasanya dia selalu muncul di
tempat ini.
“Kamu mencari siapa” Tanya
Tomi , aku hanya menggelengkan kepalaku
“Aku rasa aku tidak
bisa, ini terlalu cepat untukku”
“Bukankah ini sudah
saatnya kamu untuk menikah, aku dengar dari cerita Darti kalau usiamu sudah 30 tahun,
orang tuamu selalu memintamuu untuk menikah dan kamu belum pernah berpacaran,
harusnya kamu bersyukur karena aku memilihmu, tapi kamu malah menolakku,
Sudahlah tidak ada gunanya berhubungan dengan orang sepertimu aku rasa pria
manapun tak akan ada yang mau mendekatimu” aku terkejut mendengar kata-kata seperti
itu keluar dari mulutnya, aku merasa terhina dengan kata-katanya.
“Maaf tuan kata-kata
anda sangat kasar untuk wanita secantik dia” aku menoleh ke belakang, ternyata
Firman telah berdiri di belakangku. Dia menggenggam tanganku dan berkata “
Sayang, maaf aku telat, ada banyak pekerjaan di kantor” aku hanya mengangguk
pelan, kemudian kudengar suara kursi yang digeser dengan keras dan Tomi pergi
dari tempatnya.
“Jadi pria seperti itu
yang kau sukai” aku menggeleng
“Aku merasa malu” Dia
menggenggam tanganku.”Tidak ada yang memalukan darimu, apa yang membuatmu malu”
lihatlah padaku, aku pun menatapnya.
“Nilna, aku mencintaimu
apa kamu percaya” aku menggeleng
“Aku sungguh
mencintaimu sejak pertama kali aku melihatmu dibawah pohon angsana itu” Aku
sungguh tak percaya dengan apa yang dikatakannya. Sejenak kami hanya diam
“Maaf aku tidak bisa”
“Kenapa?”
“Karena kamu 25 tahun
dan aku 30 tahun”
“Jadi hanya masalah
umur”
“Ya aku tak mungkin
bilang ke orang tuaku kalau aku berpacaran dengan orang yang 5 tahun lebih muda
dariku”
“Jadi kau lebih
menyukai pria dewasa yang tidak menghargaimu itu” suaranya meninggi
Plak,.. Aku tidak
menyangka jika tanganku mendarat di pipinya. Dia hanya memegangi pipinya aku
melihat kemarahan dari sorot matanya. Sesungguhnya aku merasa menyesal, tapi
entah mengapa mulutku terasa kaku untuk meminta maaf hingga dia pergi dari
hadapanku.
Aku kembali ke kantor dengan
lunglai. Ketika kulihat Darti, aku langsung menghampirinya dan memeluknya, air
matakupun menetes. Aku tidak bisa menahan perasaan menyesalku. Aku menyesal
telah menamparnya dan sekarang aku takut kehilangan dia. Orang yang dalam
sekejap membuatku jatuh cinta, orang yang bisa membuatku tertawa dan aku telah
melukainya bukan hanya pipinya tapi juga hatinya.
Hari itu benar-benar
hari terburuk dalam hidupku. Sekarang tak ada lagi dering telpon di
pagi hari, tak ada lagi orang yang tiba-tiba muncul di kedai kopi. Aku merasa
kehilangan. Memang benar jika cinta datang tanpa diduga, dia datang bagai tamu yang tak diundang. Tak bisa ditebak pada siapa dia akan terpaut, begitu indah saat dia datang dan menyakitkan saat dia pergi. dan tak ada yang tahu kapan dia datang dan kapan dia pergi, apakah dia datang pada orang yang tepat, orang yang kita inginkan atau pada orang yang paling kita hindari. Kita hanya mempunyai pilihan untuk menyambutnya atau membiarkannya pergi. Apapun pilihan itu pasti ada konsekuensinya. Dan pilihanku kali ini membuat ku kehilangan dia.
Setahun telah berlalu
kini hari-hariku selalu dipenuhi oleh pekerjaan namun aku masih memiliki rasa
rindu untuk Firman. Hari ini Pak Ridwan memberiku tugas untuk membuat desain
interior di sebuah apartemen. Akupun segera meluncur. Ku ketok pintu apartemen
itu, seorang pria membukanya dari dalam. Aku terkejut melihat orang yang ku
kenal ada di dalam sana dan sepertinya dia sama terkejutnya denganku
“Firman”
“Nilna” Firman
mengijinkanku masuk ke apartemennya, aku mengatakan tujuanku ketempat ini.
Tidak kusangka jika klienku hari ini adalah Firman.
Aku memeranikan diri
untuk bertanya “Apa kamu akan tinggal di tempat ini, sendirian atau…”
“Iya aku sendirian” Selanya
kemudian kami sama-sama diam. Aku merasakan jantungku mulai berdegup kencang.
“Apa kamu mau
menemaniku untuk tinggal disini” lanjutnya
“Mungkin” Jawabku