Namanya
Jo, Hampir semua mahasiswa mengenalnya. Dia bukan seorang aktor namun memiliki
pesona layaknya aktor. Kepiawaiannya dalam Fotografi dan kapuera mampu
meluluhkan hati para gadis. Dia punya wajah yang rupawan dengan lesung pipit di
kedua pipinya, bibir merah, alis tebal dan hidung mancung. Setiap gadis berburu
unutuk mendapatkan perhatiannya. Beberapa diantaranya pernah mengirimkan surat
cinta juga memberikan bunga, coklat bahkan sepatu dan tas. Tapi belum ada
satupun yang mampu meluluhkan hatinya. Tak jarang ada yang dibuat menangis dan
patah hati karena penolakannya dan iri padaku karena dapat mendekatinya dengan
leluasa, meskipun mereka tahu bahwa aku hanya sekedar teman untuknya.
Kami
sudah berteman cukup lama, kira-kira 10 tahun yang lalu. Saat aku bermain
basket di sekitar perumahan tanpa sengaja bola itu membentur kepala Jo. Dia meringis
kesakitan dan menangis. Perlahan kudekati dia untuk meminta maaf, mengambil
bolanya dan kabur. Tapi kuurungkan karena dia tidak marah melainkan menangis.
Ternyata bola yang kulempar bukanlah alasan baginya untuk menangis. Alasan
sebenarnya karena dia sedih ibu dan kakaknya pergi dari rumah tanpa
mengajaknya. Sekarang dia hanya tinggal dengan ayah yang selalu sibuk. Aku mengetahui
rasanya tak punya ibu mengerti bagaimana perasaan Jo.
“Menangislah Jo sampai kamu puas
setelah itu lupakan kesedihanmu dan berbahagialah, aku ada di sini untuk
menemanimu”
“Siapa kamu? tak usah sok khawatir”
“Aku temanmu?”
“Teman? Apa buktinya kalau kita
teman? apa nanti kamu juga meninggalkanku ”
“Memangnya menjadi teman harus ada
buktinya?“ aku aku bingung harus menjawab apa. “Baiklah Jo begini ya, kata
ayahku tidak selamanya kita akan bersama dengan orang yang kita sayangi
termasuk ibuku dan ibumu, tapi selama kita masih bisa bersama aku akan selalu
ada untukmu, karena kita adalah teman. Apakah itu bisa dijadikan bukti
pertemanan?” kalau dipikir-pikir lagi, itu bukanlah bukti tapi sebuah janji.
Mulai
saat itu kami berteman. Dimana ada Jo disitu ada aku, begitu pula sebaliknya. Meski
tidak se-SMA kami mjuga sering main bersama, saling memperkenalkan teman kami.
Gery yang sering membuatku tertawa dengan guyonannya. Kudengar dia telah
menjadi bagian dari sebuah grup lawak. Ada Iqbal yang super alim dengan
petuahnya dan sekarang menerima beasiswa di Kairo. Jo juga memperkenalkanku
dengan Gaby. Gadis paling cantik di sekolahnya sekaligus pacarnya Dia sering mengajak Gaby ke rumahku untuk
bermain basket. Meskipun Gaby sangat baik padaku, aku sedikit cemburu melihat
mereka pacaran, karena aku merasa Jo membagi perhatian bukan hanya untukku.
Namun kisah cinta mereka hanya bertahan 5 bulan. Aku merasa sedih tapi juga
bahagia karena Jo kembali seperti yang dulu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar