Rabu, 29 November 2017

Bintang Itu Bernama Jo

Namanya Jo, Hampir semua mahasiswa mengenalnya. Dia bukan seorang aktor namun memiliki pesona layaknya aktor. Kepiawaiannya dalam Fotografi dan kapuera mampu meluluhkan hati para gadis. Dia punya wajah yang rupawan dengan lesung pipit di kedua pipinya, bibir merah, alis tebal dan hidung mancung. Setiap gadis berburu unutuk mendapatkan perhatiannya. Beberapa diantaranya pernah mengirimkan surat cinta juga memberikan bunga, coklat bahkan sepatu dan tas. Tapi belum ada satupun yang mampu meluluhkan hatinya. Tak jarang ada yang dibuat menangis dan patah hati karena penolakannya dan iri padaku karena dapat mendekatinya dengan leluasa, meskipun mereka tahu bahwa aku hanya sekedar teman untuknya.
Kami sudah berteman cukup lama, kira-kira 10 tahun yang lalu. Saat aku bermain basket di sekitar perumahan tanpa sengaja bola itu membentur kepala Jo. Dia meringis kesakitan dan menangis. Perlahan kudekati dia untuk meminta maaf, mengambil bolanya dan kabur. Tapi kuurungkan karena dia tidak marah melainkan menangis. Ternyata bola yang kulempar bukanlah alasan baginya untuk menangis. Alasan sebenarnya karena dia sedih ibu dan kakaknya pergi dari rumah tanpa mengajaknya. Sekarang dia hanya tinggal dengan ayah yang selalu sibuk. Aku mengetahui rasanya tak punya ibu mengerti bagaimana perasaan Jo.
“Menangislah Jo sampai kamu puas setelah itu lupakan kesedihanmu dan berbahagialah, aku ada di sini untuk menemanimu”
“Siapa kamu? tak usah sok khawatir”
“Aku temanmu?”
“Teman? Apa buktinya kalau kita teman? apa nanti kamu juga meninggalkanku ”
“Memangnya menjadi teman harus ada buktinya?“ aku aku bingung harus menjawab apa. “Baiklah Jo begini ya, kata ayahku tidak selamanya kita akan bersama dengan orang yang kita sayangi termasuk ibuku dan ibumu, tapi selama kita masih bisa bersama aku akan selalu ada untukmu, karena kita adalah teman. Apakah itu bisa dijadikan bukti pertemanan?” kalau dipikir-pikir lagi, itu bukanlah bukti tapi sebuah janji.

Mulai saat itu kami berteman. Dimana ada Jo disitu ada aku, begitu pula sebaliknya. Meski tidak se-SMA kami mjuga sering main bersama, saling memperkenalkan teman kami. Gery yang sering membuatku tertawa dengan guyonannya. Kudengar dia telah menjadi bagian dari sebuah grup lawak. Ada Iqbal yang super alim dengan petuahnya dan sekarang menerima beasiswa di Kairo. Jo juga memperkenalkanku dengan Gaby. Gadis paling cantik di sekolahnya sekaligus pacarnya  Dia sering mengajak Gaby ke rumahku untuk bermain basket. Meskipun Gaby sangat baik padaku, aku sedikit cemburu melihat mereka pacaran, karena aku merasa Jo membagi perhatian bukan hanya untukku. Namun kisah cinta mereka hanya bertahan 5 bulan. Aku merasa sedih tapi juga bahagia karena Jo kembali seperti yang dulu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar