Rabu, 16 Desember 2015

PERJALANAN KE DUNIA LAIN

Lelah memang kalau mencari uang, walaupun hasilnya tak seberapa. Tak sebanyak gaji bulanan anggota dewan atau pegawai kantoran meskipun pekerjaannya lebih berat. Kemana mana membawa kemoceng dan kain pel serta lap kain di pundak kiriku. Tapi apa boleh buat, jaman sekarang mencari uang itu susah, apalagi sekedar lulusan SD seperti aku ini. Untung-untung diterima kerja di tempat ini, tempat bersejarah dan penuh dengan cerita sehingga tempat ini banyak dikunjungi. Setiap hari aku selalu melihat para pengunjung antusias dengan berbagai perabotan medis yang dipajang di sekitar dinding, ada manekin, dan beberapa lukisan jaman dahulu. Namun tak jarang dari mereka yang membuatku kesal setengah mati, tingkat pendidikan yang sepertinya lebih tinggi dari pada aku, tidak mencerminkan sikapnya. Tidak sedikit diantara mereka yang membuang sampah di sembarang tempat, padahal terdapat beberapa papan pengumuman yang menuliskan “Buanglah Sampah pada Tempatnya”. Aku pernah berpikir apakah orang-orang ini buta huruf sehingga tetap melakukan hal seperti itu.  Sebagai petugas disini hanya bisa mengelus dada dan membersihkan sampah yang mereka bawa supaya tempat ini bersih dan pengunjung yang lain merasa nyaman dan aku pun ikut senang.
Aku baru dua bulan bekerja di tempat ini, namun merasa senang memiliki atasan yang ramah dan pengertian, beberapa teman yang suka bercanda namun ada beberapa yang masih memegang budaya senioritas, dimana yang lebih lama bekerja disini maka dialah yang berkuasa. Mau tidak mau aku juga harus menerimanya, karena aku harus tetap bkerja dan menghasilkan uang untuk menghidupi kedua buah hatiku. Dan hari ini aku yang terkena imbasnya
“Hey darti, kemarin kamu pulang duluan kan? kalau begitu hari ini kamu gantiin aku, gantian dong aku yang pulang duluan”
“Tapi mbak kemarin itu karena….. “ Belum selesai bicara dia sudah menyela
“Kamu itu anak baru sudah berani nolak, banyak alasan”
Sudahlah percuma juga aku bicara, dijalani saja. Mau bilang jujur jika kemarin anakku sakit makanya aku pulang, pasti dikira cari –cari alasan.
“Sabar ya Darti, Mbak Dian memang kayak gitu” aku hanya bisa mengangguk. Sudahlah sebaiknya aku bergegas mengerjakan pekerjaan Mbak Dian supaya aku bisa pulang cepat.
“Ya sudahlah, Nur aku pergi dulu”
Aku pun bergegas mengambil segala macam senjata yang aku butuhkan untuk membersihkan lorong A4. Sebenarnya lorong ini sudah cukup bersih karena jarang orang yang berada di tempat itu terlalu lama. Karena memang pajangannya tidak begitu banyak. Tapi bagaimanapun juga harus tetap dibersihkan debu-debu yang menempel di beberapa kaca dan pajangan.
Orang bilang hidup itu harus dinikmati, bekerja pun juga sama. Jadi tak ada salahnya untuk sedikit bersenang-senang, saatnya menyalakan Hape memilih beberapa list lagu dan memutarnya. Lagu pertama yang ku putar adalah lagu dangdut dari salah satu host super kocak
bang jali bang jali goyangnya bikin happy
bikin loe ketagihan semua jadi goyang…
Tak terasa badanku ikut bergoyang mengikuti beberapa gerakan dari goyang itu. Beberapa pajanan dan kaca sudah selesai dibersihkan tinggal pintu di ujung lorong.

Aku berdiri di depan pintu anehnya ada selembar kertas yang menempel di pintu tersebut. Kertas tersebut bertuliskan “ Jalan Ke Dunia Lain”. 

NANTI

Dia menunggu tiupan angin yang dapat membawanya kemana saja
Dia menunggu air yang mengalir mengikuti arus kebahagiaan
Dia menunggu matahari yang menyinari air mukanya yang kusam
Dia menunggu bulan dan bintang yang dapat menemaninya saat malam datang
Dia menunggu hujan yang akan meleburkan kesedihannya
Dia lelah untuk berpikir
Dia lelah untuk berprasangka
Dia lelah untuk menangis
Dia lelah untuk menunggu
Apakah dia hanya bisa menunggu tak bisakah dia lari saja
Lihatlah di kakinya ada belenggu yang teramat besar
Lihatlah di dadanya ada luka yang teramat dalam
Lihatlah senyum palsu yang menunjukkan kepedihan itu
Lihatlah mata sayu yang kekeringan itu
Lihatlah badan yang kurus kering itu
Lihatlah betapa menyedihkannya dia
Tak kau hirupkah aroma kesepian dari tubuhnya
Tak kau lihatlah kegalauan di raut wajahnya
Tak kau lihatkah ketakutan yang ada di muka kusamnya

*hanya puisi tentang seseorang yg paling dibenci

Senin, 14 Desember 2015

CROWN part 3

Kami pulang ke jalan kami masing-masing dengan perasaan yang bercampur aduk.Aku kembali ke ruang kerjaku. Dan terkejut melihat Cakra telah duduk di kursiku.Aku harap dia tak sadar kalau aku baru saja menangis.
“Hey sayang kau sudah datang, kau tidak lupa kalau hari ini kita harus bertemu rekan bisnisku untuk membicarakan pembangunan hotel di Lombok” Aku mengangguk.Di pertemuan itu, mereka hanya membicarakan soal uang, asset yang dimiliki mobil mewah, dan kali ini aku benar-benar tidak tertarik untuk ikut dalam pembicaraan itu.Akupun pamit duluan.Di perjalaan pulang aku mampir ke salah satu toko kue favoritku saat kuliah, ditempat inilah pertama kali melihat arya.Dia bekerja sambilan di tempat ini sedangkan aku pelanggan setianya.Aku selalu membeli macaron untuk kedua anak pemilik tempat kerjaku saat itu.Aku sering melihat dia mengobrol dengan Tami salah satu teman kuliahku yang terbilang populer.Aku memesan red velvet dan secangkir kopi.
Saat aku melihat kearah pintu, aku melihat Arya dan Tami masuk ke dalam kafe.Mereka duduk tepat di belakangku dan sepertinya mereka tak melihatku.Tak kusangka sampai sekarang mereka masih bersama.Setelah memesan makanan, Tami bertanya pada Arya
“Apakah kau benar-benar bertemu dengan Sarah, apakah dia masih secantik dulu”
“Dia semakin cantik”
“Lalu kau semakin menyukainya”
“Ya” Aku terkejut, ku kira mereka adalah sepasang kekasih
“Lalu kenapa tak kau jadikan kekasihmu saja”
“Aku semakin tak pantas untuknya, dan dia memiliki seseorang yang lebih baik dari pada aku”
“Apanya yang tak pantas, kau ini orang yang hebat”
“Aku hanya seorang PNS dan dia seorang GM di hotel yang sering kami ajak kerjasama, ini hanya akan menjadi batu sandungan untuk karirnya”
“Ah aku mengerti, kalau begitu kau tak perlu bekerja sama dengan hotelnya lagi, pilih saja hotel lainnya, dan kalian bisa berhubungan”
“Sttt kau ini, itu tidak adil untuknya, lagi pula aku harus tetap netral dan objektif dalam setiap pekerjaanku” Mereka sama-sama tertawa sedangan aku hanya terpaku mendengar percakapan itu.Aku tak menyangka jika Arya menyukaiku, sejak kapan itu,terjadi hari ini kah, kemarin atau kemarinnya lagi.Keesokan harinya aku mendapat kabar jika hotel kami kembali terpilih untuk acara pariwisata agustus ini. Ku kira Arya akan menghindari kerja sama dengan hotel kami. Akhirnya aku putuskan untuk mengajaknya bertemu dengannya di sebuah restoran pinggir danau. Aku ingin menikmati udara yang segar di tempat ini.
“Maaf sudah lama menunggu, untuk apa kau memintaku datang kemari”
“aku ingin berterima kasih karena kalian telah memilih hotel kami”
“kau tidak perlu berterima kasih, ini karena hotel kalian memenuhi semua persyaratan yang kami inginkan” Kemudian kami terdiam cukup lama. Aku memberanikan diri untuk bertanya “Apakah dulu kau tahu kalau aku menyukaimu”
“Ya” jawabnya “Lalu kenapa kau hanya diam” tanyaku
“Karena kau seperti menjaga jarak denganku, setiap kali mencoba mendekat kau berlalu pergi, setiap kali aku menatapmu kau memalingkan mukamu.meskipun banyak orang yang mengatakannya padaku,mana mungkin aku percaya kalau kau menyukaiku”
“Itu karena aku malu” Aku tak berani menatap wajahnya karena kurasa wajahku sudah memerah.Setelah sekian lama kami terdiam, tangannya meraih tanganku dia mengajakku pergi untuk melihat tempat ini dan menikmati pemandangan.Kami hanya mengobrol ringan tapi aku merasa bahagia.Harusnya hal ini terjadi 7 tahun yang lalu saat kami muda dan saat aku masih sendiri.Tiba-tiba aku memikirkan Cakra dan merasa bersalah padanya.Tapi aku juga tidak bisa melewatkan momen langka ini atau momen yang sudah lama ku nantikan dan hanya ingin menikmati saat ini aku.Aku mulai memikirkan kata-kata Berta kurasa dia benar bahwa aku harus menata hatiku juga.Mungkin aku harus memikirkan arti kata bahagia yang di ucapkannya.Mungkin aku harus membelokkan jalan pikiranku untuk mencari kebahagiaanku.Mungkin aku bisa mendapatkannya bersama Arya dan dapat mempertahankan genggaman tangan ini selamanya. Dan Cakra, ku rasa dia akan mendapatkan penggantiku dengan mudah. Aku hanya perlu berbicarakan secara baik-baik. Sedangkan karirku, aku hanya akan memulainya dari awal lagi, dengan cara yang baik dan niat yang baik.