Kamis, 26 Februari 2015

UNINVITED

Kata Darti jadi orang jangan terlalu jual mahal, jangan terlalu selective kalau memilih pasangan nanti tidak laku laku. Tapi menurutku bagaimana kita tidak boleh selective, tujuannya mencari pasangan itu untuk mencari pendamping seumur hidup, bisa setia sampai mati, sampai aki-aki dan neni-neni. Makanya harus bisa memilih pasangan yang baik, pasangan yang membuat nyaman di hati, kalau masalah tampan atau kaya itu hanyalah bonus. Tapi bukan Darti, kalau tidak bisa membuatku galau setengah mati, pasalnya dia menggunakan kartu matiku.
“Coba kamu pikir, umurmu sekarang sudah 30 tahun, selama 30 tahun kamu hidup di dunia yang fana ini kamu belum pernah merasakan punya pasangan hidup, pacaran saja belum pernah kan” Aku mengangguk mendengar ucapannya itu.
 “Kamu mau di cap perawan tua sampai mati” aku mulai gelagapan kemudian dengan sigap menjawab “Jangan sampai seperti itu Darti”
“Nah makanya kali ini kamu harus mau kukenalkan dengan temanku”
“Teman yang mana? aku mengenal semua temanmu”
“Yang satu ini, kamu sama sekali tidak mengenalnya, dia sudah lama tinggal di luar kota, dan baru kembali kemarin. Hari ini dia akan datang kemari”
Seorang pelayan datang menghampiri kami. Dia siap mencatat pesanan kami.Aku berdehem “ Caramel Macchiato  dan triple decker cheesecake” setelah mencatat pesananku, pelayan itu beralih ke Darti. “Iced tea dan lemon square
Darti kemudian permisi ke kamar mandi. Tak berapa lama seorang pria muda menghampiri meja kami. Wajahnya sudah tidak asing lagi untukku.
“Nilna Larasati ya” aku mengangguk, kemudian dia mengulurkan tangannya kepadaku dan kusambut dengan ragu-ragu.
“Siapa?”
“Firman, adik kelasmu semasa kuliah” Sejenak aku berpikir untuk mengingat kembali teman dikampusku. Setelah lama kupandangi akhirnya aku ingat dulu aku mempunyai seorang adik kelas yang sangat cerewet bernama firman, tapi dulu dia tak seperti ini. Dulu dia kurus, tinggi, item, dekil. Tak kusangka sekarang dia berubah menjadi seorang pria tampan.
“Kamu sendirian? aku boleh gabung?”
“Aku tadi ke sini dengan teman, tapi tidak masalah kalau kamu ingin gabung”
“Bukan sedang arisan kan” Kami tertawa, anak ini memang tidak berubah selalu bisa membuatku tertawa. Kemudian Darti datang menghampiri kami. Dia terlihat kaget melihat ada orang yang duduk di tempatnya.
“Firman”
“Hai” dia memasang senyuman yang menonjolkan giginya yang rapi. tak disangka Darti langsung mengenalinya, aku saja sudah lupa.
“Na, Tomi tidak jadi datang dan aku mendadak ada panggilan dari kantor, aku duluan ya”
Seperginya Darti kami berdua mengobrol dengan santai. Ternyata sekarang dia sudah bekerja diperusahaan konsultan arsitektur. Bagiku ini adalah pertemuan singkat yang menyenangkan.
Dua hari kemudian aku bertemu dengan Tomi di kedai kopi yang sama, seperti kata Darti dia orang yang cerdas berwibawa dan penuh semangat.
“Aku pernah merancang salah satu gedung tertinggi di jalan thamrin dan kemarin aku baru saja menyelesaikan sebuah proyek besar di Kalimantan. Aku juga mendapat tawaran di Negeri Jiran dan akan sangat menyenangkan jika aku bisa membawamu kesana” Aku tersedak mendengar kalimat yang terakhir. Apakah maksudnya dia ingin membawaku ke sana sebagai pasangan. Secepat itukah, padahal kita baru pertama kali bertemu.
“Walau baru pertama kali saya bertemu dengan nilna, saya merasa kamu bisa menjadi pendamping yang pas untuk saya, cantik, pintar dan anggun” Aku hanya tersenyum tipis dan merasa tersanjung atas pujiannya tapi aku juga muak mendengarnya. Dipertemuan ini aku tak banyak bicara lama-lama dia membosankan, pujiannya terlalu berlebihan. Untungnya dia cepat pergi karena ada panggilan mendadak dari kantornya. Meskipun begitu kami berjanji untuk bertemu kembali. Kali ini aku benar-benar mengikuti kata darti untuk membuka pintu hatiku supaya dia tak pernah lagi menyebut kata perawan tua. Tiba-tiba ponselku bordering.
“Halo”
“Ciye yang selesai kencan”
“Sok Tau”
“Itu pria yang berkacamata tadi, siapa kalau bukan pacar?” aku celingukan mencari si penelepon, dia pasti ada di sekitar sini. Kemudian aku melihat lambaian tangan yang dihiasi jam tangan rolex
“Hai kakak, akhirnya kita bertemu lagi”
“Sedang apa kamu di sini”
“ngopi”
“Sepertinya dia pria yang baik, berkelas, berwibawa dan kaya. Pilihanmu memang selalu yang terbaik kakak”
“Pilihan apanya”
“Itu pacarmu kan?”
“Sudah kubilang bukan”
Aku melihat senyum dari wajahnya. Kemudian dia menarik tanganku membawaku pergi dari kedai. Mobil kami berhenti di kampus yang sudah lama tidak aku kunjungi. Malam-malam begini kampus terasa sepi. Hanya ada seorang satpam yang menjaga pintu masuk tapi dia sedang tertidur.
“Untuk apa kita ke sini”
“Kencan”
“Hey anak kecil, siapa yang mengijinkanmu membawaku ke sini”
“Kalau kau tak mau seharusnya menolak dari tadi” Dia membawaku ke atap gedung, Gedung kampusnya ada tiga lantai, tapi selama aku di kampus tak sekalipun pernah mendatangi tempat ini. Disini bintang terlihat lebih jelas, angin yang berhembus membuat badanku kedinginan. Aku mengikuti Firman yang berdiri di ujung. Dia menyodorkan sebotol minuman bersoda kemudian memberikan jaketnya kepadaku. Sebenarnya aku tak enak hati untuk menerima jaketnya namun dia memaksa sepertinya tahu kalau aku kedinginan.
“Berapa umurmu sekarang”
“25”
“Apa itu benar, bukankah seharusnya kamu berumur 27 atau 28”
“Aku masuk perguruan tinggi lebih cepat dibandingkan dengan yang lain karena aku mengikuti kelas akselerasi dari SMP, kamu pasti tidak menyangka aku sepintar itu kan” aku hanya tersenyum dan meneguk sodaku.
“Dulu aku melihatmu di sana” Dia menunjuk sebuah pohon angsana. Tempat favoritku untuk membaca buku. Tak kusangka tempat itu nampak terlihat jelas dari sini.

“Dulu kau sangat cantik kakak” Dia membuatku terkejut karena mendekatkan wajahnya kepadaku. “Tapi sekarang aku melihat kerutan di bawah matamu” aku mendorongnya “Apa kau bilang, kerutan? bagaimanapun juga aku ini lebih tua dari pada kamu, jangan bicara tidak sopan seperti itu padaku” Aku menggerutu tapi dia tertawa. Anak ini benar-benar gila. Setelah berhenti tertawa dia berkata “Meskipun begitu sekarang kamu tetap cantik” aku tersanjung mendengar pujian darinya, kalau dilihat-lihat dia pria yang manis sayangnya usianya lebih muda dariku.
Pagi hari datang, suara taylor swift terdengar nyaring. Aku mencari keberadaan Hp ku, kemudian mengangkat panggilan itu,
“Hai kakak apakah kamu sudah bangun, bagaimana apakah kamu mimpi indah setelah kencan kita tadi malam”
“Heh siapa bilang itu kencan”
“Oke ternyata kamu sudah bangun, bey” tut tut tut dia menelpon dan menutup seenak hatinya. Apa tadi dia bilang “Kencan” seumur-umur aku tidak pernah kencan dengan orang yang lebih muda dari pada aku. Sudahlah aku tidak peduli dengan apa yang dikatakannya sekarang saatnya kembali ke rutinitasku, sarapan pagi dan berangkat ke kantor.
Baru memasuki loby kantor aku mendengar teriakan Darti
“Nilna” dia menghampiriku dan menggeretku ke meja loby. Aku melihat sebuket mawar merah yang cantik di meja panjang itu. Tapi kemudian Darti mengambilnya dan menyerahkannya kepadaku
“Kemarin kencannya sukses berat ya, sampai dia mengirimkan bunga ditambah kata-kata romantis di kartu itu”
Kencan? apa mungkin semua ini dari Firman. Kenapa aku jadi memikirkan dia. Mungkinkah anak itu sudah menghipnotisku karena semenjak tadi dia selalu berputar-putar dipikiranku. Ku buka kartu ucapan itu, entah mengapa aku merasa kecewa saat kulihat nama Tomi yang tertulis di sana.
***
Hari ini Tomi mengajakku bertemu di kedai kopi. Kali ini aku memesan secangkir espresso dengan sesendok gula. Tak berapa lama dia datang membawa sebuket mawar merah. Kami banyak membicarakan tentang pekerjaan, sesekali dia menyinggung masalah perasaan tapi aku mengalihkan pembicaraan itu. Entah mengapa aku merasa tidak nyaman membicarakannya. Namun kemudian aku mengalami kebuntuan untuk mengelak ketika dia bertanya
“Bagaimana tawaranku kemarin, apakah kamu bersedia untuk ikut aku ke Malaysia dan menjadi pendampingku disana?”
“Pendamping?”
“Oh maaf, maksudku sebagai seorang istri” Sejenak aku berpikir, aku tak tahu dia melamarku secepat ini, padahal kami baru saja bertemu dan belum begitu kenal dengannya. terlebih lagi aku merasa biasa saja saat di dekatnya tidak seperti saat aku bersama Firman. Dia bisa memberikan suasana baru yang membuatku nyaman dan senang, di saat seperti ini aku ingin bertemu dengannya. Seketika aku celingukan mencari anak itu, mungkinkah dia berada di sini karena biasanya dia selalu muncul di tempat ini.
“Kamu mencari siapa” Tanya Tomi , aku hanya menggelengkan kepalaku
“Aku rasa aku tidak bisa, ini terlalu cepat untukku”
“Bukankah ini sudah saatnya kamu untuk menikah, aku dengar dari cerita Darti kalau usiamu sudah 30 tahun, orang tuamu selalu memintamuu untuk menikah dan kamu belum pernah berpacaran, harusnya kamu bersyukur karena aku memilihmu, tapi kamu malah menolakku, Sudahlah tidak ada gunanya berhubungan dengan orang sepertimu aku rasa pria manapun tak akan ada yang mau mendekatimu” aku terkejut mendengar kata-kata seperti itu keluar dari mulutnya, aku merasa terhina dengan kata-katanya.
“Maaf tuan kata-kata anda sangat kasar untuk wanita secantik dia” aku menoleh ke belakang, ternyata Firman telah berdiri di belakangku. Dia menggenggam tanganku dan berkata “ Sayang, maaf aku telat, ada banyak pekerjaan di kantor” aku hanya mengangguk pelan, kemudian kudengar suara kursi yang digeser dengan keras dan Tomi pergi dari tempatnya.
“Jadi pria seperti itu yang kau sukai” aku menggeleng
“Aku merasa malu” Dia menggenggam tanganku.”Tidak ada yang memalukan darimu, apa yang membuatmu malu” lihatlah padaku, aku pun menatapnya.
“Nilna, aku mencintaimu apa kamu percaya” aku menggeleng
“Aku sungguh mencintaimu sejak pertama kali aku melihatmu dibawah pohon angsana itu” Aku sungguh tak percaya dengan apa yang dikatakannya. Sejenak kami hanya diam
“Maaf aku tidak bisa”
“Kenapa?”
“Karena kamu 25 tahun dan aku 30 tahun”
“Jadi hanya masalah umur”
“Ya aku tak mungkin bilang ke orang tuaku kalau aku berpacaran dengan orang yang 5 tahun lebih muda dariku”
“Jadi kau lebih menyukai pria dewasa yang tidak menghargaimu itu” suaranya meninggi
Plak,.. Aku tidak menyangka jika tanganku mendarat di pipinya. Dia hanya memegangi pipinya aku melihat kemarahan dari sorot matanya. Sesungguhnya aku merasa menyesal, tapi entah mengapa mulutku terasa kaku untuk meminta maaf hingga dia pergi dari hadapanku.
Aku kembali ke kantor dengan lunglai. Ketika kulihat Darti, aku langsung menghampirinya dan memeluknya, air matakupun menetes. Aku tidak bisa menahan perasaan menyesalku. Aku menyesal telah menamparnya dan sekarang aku takut kehilangan dia. Orang yang dalam sekejap membuatku jatuh cinta, orang yang bisa membuatku tertawa dan aku telah melukainya bukan hanya pipinya tapi juga hatinya.
Hari itu benar-benar hari terburuk dalam hidupku. Sekarang tak ada lagi dering telpon di pagi hari, tak ada lagi orang yang tiba-tiba muncul di kedai kopi. Aku merasa kehilangan. Memang benar jika cinta datang tanpa diduga, dia datang bagai tamu yang tak diundang. Tak bisa ditebak pada siapa dia akan terpaut, begitu indah saat dia datang dan menyakitkan saat dia pergi. dan tak ada yang tahu kapan dia datang dan kapan dia pergi, apakah dia datang pada orang yang tepat, orang yang kita inginkan atau pada orang yang paling kita hindari. Kita hanya mempunyai pilihan untuk menyambutnya atau membiarkannya pergi. Apapun pilihan itu pasti ada konsekuensinya. Dan pilihanku kali ini membuat ku kehilangan dia.
Setahun telah berlalu kini hari-hariku selalu dipenuhi oleh pekerjaan namun aku masih memiliki rasa rindu untuk Firman. Hari ini Pak Ridwan memberiku tugas untuk membuat desain interior di sebuah apartemen. Akupun segera meluncur. Ku ketok pintu apartemen itu, seorang pria membukanya dari dalam. Aku terkejut melihat orang yang ku kenal ada di dalam sana dan sepertinya dia sama terkejutnya denganku
“Firman”
“Nilna” Firman mengijinkanku masuk ke apartemennya, aku mengatakan tujuanku ketempat ini. Tidak kusangka jika klienku hari ini adalah Firman.
Aku memeranikan diri untuk bertanya “Apa kamu akan tinggal di tempat ini, sendirian atau…”
“Iya aku sendirian” Selanya kemudian kami sama-sama diam. Aku merasakan jantungku mulai berdegup kencang.
“Apa kamu mau menemaniku untuk tinggal disini” lanjutnya
“Mungkin” Jawabku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar